Perlakuan Akuntansi Perusahaan Konstruksi (bagian 1)

Accounting1Industri konstruksi adalah industri yang sarat dengan risiko sehingga membutuhkan penanganan khusus. Dalam banyak hal kegiatan konstruksi memerlukan pedoman atau standard yang jelas dan memiliki acuan. Dengan demikian risiko yang akan muncul bisa ditangani dengan baik.

Dari sudut  pandang ilmu Akuntansi, kebutuhan akan sebuah pengakuan dan pencatatan menjadi sesuatu yang berharga dan harus sifatnya.Oleh karena itu setiap unit usaha apapun jenis kegiatan dan skalanya memerlukan media untuk menampilkan kinerja industrinya. Media dalam bentuk laporan keuangan sering sekali dan banyak dipergunakan oleh setiap uint usaha untuk menampilkan kinerja keuangannnya,.

Di Indonesia sendiri telah dihasilkan sebuah standard pencatatan yang merujuk kepada internasional standard yaknit IFRS.Sistem ini memberikan kepastian dan juga ukuran bagi setiap aktifitas yang menimbulkan biaya maupun kekayaan. Perubahan-perubahan terhadap standard sebelumnya ketika IFRS belum diadopsi lambat laun telah diakukan sehingga pada akhirnya menghasilkan sebuah pencatatan yang mengikuti standard internasional.

Secara spesifik pencatatan laporan keuangan industry konstruksi difokuskan ke perhitungan dan pencatatan atas pendapatan yang diperoleh pada pelaksanaan pekerjaan. PSAK 23 yang merupakan standard pencatatan untuk pendapatan dan dipergunakan oleh setiap unit usaha apapun jenis kegiatannya memberikan sedikit penguatan oleh karena itu dibutuhkan seuatu pendekatan yang lain mengingat industry konstruksi memiliki karateristik berbeda salah satunya adalah lamanya penyelesaian pekerjaan.

Penulis :

HH

Helmy Harahap – Professional Instructor DMTc

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Warning! Spamming is against the law