Faktor Pendorong Pelaku Fraud (The Fraud Triangle)

Setelah kita memahami bentuk-bentuk fraud (lihat tulisan http://dmt-id.com/audit-fraud-articles/bentuk-bentuk-kecurangan-fraud/) . Pertanyaan berikutnya untuk dapat memahami dan mencegah fraud adalah mengapa pelaku melakukan fraud, apakah fraud hanya dapat dilakukan oleh pelaku yang memiliki kekuasaan atau jabatan yang tinggi

Fraud dapat terjadi dimana saja dan oleh siapa saja ?

Apakah perusahaan yang sudah tertata dengan baik, memiliki fungsi internal control yang baik, atau memiliki standard operating procedure (SOP) tidak rentan terhadap fraud. Ternyata dari kasus-kasus fraud yang ada, banyak kasus fraud terjadi di perusahaan-perusahaan yang sudah mendunia atau perusahaan besar yang sudah berdiri semenjak lama. Contoh kasus farud yang terjadi di ENRON, WorldCom, TYCO, Xerox, IBM dan lainnya. Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa adanya sistem dan kebijakan tidak menjamin tidak terjadi fraud. Biasanya kebijakan dan sistem yang dibangun pada awalnya bertujuan untuk mengakomodasi kepentingan strategi perusahaan dalam rangka memenangkan persaingan bisnis.

Dari hasil survei yang dilakukan oleh Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) pada tahun 2004 ada beberapa hal menarik yaitu

  • 92% pelaku fraud yang diteliti ternyata tidak memiliki latarbelakang kriminal sebelumnya.
  • 54% dilakukan oleh pria dan 47% oleh wanita
  • Kerugian bagi perusahaan akibat pelaku berdasarkan tingkat jabatannya ; Staff : $78,000, Manager: $218,000, Executive: $1,000,000

Dari hasil survey tersebut dapat disimpulkan bahwa fraud

  • dapat terjadi dimana saja, tidak mengenal perusahaan besar maupun kecil,
  • dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya pelaku yang sudah pernah melakukan fraud atau memiliki pengalaman
  • tidak mengenal jenis kelamin pria atau wanita
  • makin tinggi jabatan dan kekuasaan makin besar kerugian fraud yang diderita perusahaan

Mengapa melakukan fraud ?

Pelaku fraud melakukan aksinya karena didasari oleh tiga faktor pendorong yaitu

Fraud triangle

  • Adanya Tekanan (Perceived Pressure)

Tekanan adalah faktor kebutuhan yang diluar kemampuan atau kewajarannya, seperti kebutuhan keluarga yang meningkat, hutang yang harus dilunasi, berkaitan dengan tabiat buruknya seperti berjudi, tamak, atau kurang mendapat perhartian di tempat kerja, target yang terlalu tinggi

  • Adanya Kesempatan (Perceived Opportunities)

Kesempatan adalah berkaitan dengan keadaan organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa, sehingga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan terhadapnya. Contoh tidak ada control inventory, tidak ada system penilaian, tidak ada laporan yang memadai, tidak ada peraturan yang jelas dan sebagainya

  • Adanya Pembenaran (Perceived Rationale)

Berkaitan dengan faktor dari dalam diri pelaku, yang membenarkan tindakannya, seperti menganggap tidakan fraud adalah wajar karena sudah lama bekerja di perusahaan, pembenaran karena semua orang juga melakukan fraud, perusahaan hanya dirugikan sedikit, demi kemajuan perusahaan dan lainnya

Jadi secara fundamental pelaku fraud akan melakukan aksinya jika paling tidak ada dua faktor pendorong tersebut. Maka jika perusahaan ingin mengurangi atau mencegah terjadinya fraud maka, perusahaan harus menutup kemungkinan terjadinya tiga element tersebut.

Bagaimana teknik pencegahan, pendeteksian dan pembuktian fraud ? Akan disajikan dalam Artikel DMTc selanjutnya.

Dino Martin, MBA Instruktur DMTc

Dino Martin, MBA
Instruktur DMTc

One thought on “Faktor Pendorong Pelaku Fraud (The Fraud Triangle)

  1. Linux vps says:

    The three key elements in the fraud triangle are opportunity, motivation, and rationalization. Opportunity is the element over which business owners have the most control. Limiting opportunities for fraud is one way a company can reduce it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Warning! Spamming is against the law